Showing posts with label SEJARAH. Show all posts
Showing posts with label SEJARAH. Show all posts

Thursday, August 4, 2011

Asal Ilmu Tauhid Aliran Asya'irah

Yakni pertama-tama orang yang menghantarkan (menyusun) dia ((ilmu tauhid Ahli Sunnah wal Jamaah) itu iaitu Abul Hasan al-Asy’ari.

Dan adalah citeranya (Mengikut ceritanya), adalah Abu Hashim al-Jubbaa’i guru Abu Hasan al-Asya’ri lagi bapa tiri suami ibunya. Maka tinggal mengikut barang yang diambil daripada ilmu Mu’tazilah 40 tahun.

Kemudian maka telihat ia (Abu Hasan Asya’ri) akan Nabi pada tidurnya (mimpinya) tiga kali. Berkata ia (Rasulullan saw) baginya pada tiap-tiap kalinya “Hai Abul Hasan, tolong olehmu akan a’qaid yang diriwayatkan daripadaku. Maka bahawasanya ia yang sebenarnya.”

Maka sembah Abu Hasan pada yang ketiga kalinya, “Betapa aku tinggal akan mazhab yang sudah aku tasawurkan masalahnya dan aku ketahui akan dalilnya 30 tahun daripada bicara aku dengan ilmunya?”

Maka sabdanya Rasulullah saw: “Jika tiada aku ketahui bahawasanya Allah Taala menolong akan dikau dengan penolongNya (pertolonganNya), tiada aku suruh akan dikau.”

Kemudian maka jaga ia daripada tidurnya. Maka berkata ia, maka tiada kemudian daripada nyata yang sebenarnya melainkan sesat.

Kemudian maka mengambil akan beberapa hadith yang menolongkan (mengesahkan/mengukuhkan) akan i’tiqad Ahli Sunnah wal Jamaah. yang datang pada (beberapa persoalan yang ditolak oleh kaum Mu’tazilah seperti) melihat akan Allah pada Hari Qiamat, dan hadith memberi syafaat Nabi saw, dan lainnya. Maka ditolongkan Allah dengan petolongNya.

Maka adalah ia membukakan daripadanya beberapa bicara dan beberapa dalil dan burhaan yang tiada pernah mendengar daripada syeikhnya sekali-kali, dan tiada pernah dilihatnya di dalam kitab. Kemudian lenyap ia (ia menghilangkan diri) daripada mata manusia ( dengan berdiam diri) pada rumahnya 15 hari.

Kemudian keluar ia (perdi) kepada masjid jami’ dan naik ia ke atas mimbar dan berkata ia , “Hai segala manusia, sesungguhnya adalah ghaibku (menghilangnya aku) daripada kamu masa ini kerana bahawasanya aku tilik (meneliti) akan beberapa dalil. Maka aku dapat bersama-sama pada aku beberapa dalil yakni berlawanan dalil tiada dapat aku hendak lebih suatu daripada satunya.”

“Aku minta petunjuk daripada Allah Taala. Maka(Allah) menunjukkan daku kepada i’tiqad yang sebenarnya. Maka aku taruhkan (kumpulkan) di dalam ghaibku ini (selama aku menghilangkan diri ini). Dan sesungguhnya telah aku tinggalkan daripada segala ilmu (yang salah daripada fahaman MU’tazilah) yang ada aku i’tiqad akan dia seperti aku tanggalkan daripada kain ini.” Maka ditanggalkannya kain yang ia pakai yang ada padanya dan dilontarnya (sebagai gambaran bahawa dia sudah menanggalkan fahaman Mu’tazilah yang dianutinya selama ini).

Kemudian maka diangkatkan kitab yang ia karang atas Mazhab Ahlus Sunnah kepada manusia. Maka adalah ia pertama-tama orang yang mengedarkan (menyusun dan mengajarkan) ilmu ‘aqaid atas jalan Kitab dan Sunnah, yakni mengikut Quran dan hadith dan ijmak as-sahabat yang dahulu-dahulu yang soleh-soleh. Maka jadi hinalah segala ahli al-i’tizaal (para pengikut fahaman Mu’tazilah).

SUMBER:

Kitab Ad-Durruth Thamiin karya Asy-Syeikh Daud bin Asy-Syeikh ‘Abdullah al-Fatoni, mukasurat 3 dan 4


sumber

Wednesday, September 3, 2008

Benarkah Bani Israel Umat Terpilih?

Wahai Bani Israel ! Kenangkanlah nikmat-nikmat-Ku yang Aku telah kurniakan kepada kamu, dan (ingatlah) bahawasanya Aku telah melebihkan (nenek moyang) kamu (yang taat dahulu) atas orang (yang ada pada zamannya). (al-Baqarah: 47)

Huraian

BANI Israel memang ada kelebihan atau disebut terpilih tetapi sebenarnya yang terpilih itu hanya tauhid pada zamannya sahaja dan mereka yang beriman kepada Allah SWT.

Banyak ayat al-Quran menyatakan tentang kelebihan dan nikmat yang diberi kepada Bani Israel. Namun setelah mereka menderhakai Allah, membunuh para nabi, kufur nikmat, mengabaikan perjanjian Allah dan meninggalkan tanggungjawab, maka Allah mengisytiharkan hukuman ke atas kesalahan-kesalahan mereka itu dengan hukuman laknat, kemurkaan, kehinaan, kemiskinan dan janji azab di akhirat.

Dalam al-Quran sering diingatkan kepada Bani Israel tentang nikmat-nikmat yang diberi kepada mereka. Tujuannya agar mereka sedar serta bersyukur atas nikmat itu seterusnya dapat berdakwah di jalan Allah bukan bersikap sombong lagi ingkar mengundang murka dan azab Allah SWT.

Penutup

Bani Israeladalah satu kaum yang terpilih dan dimuliakan oleh Allah pada zaman mereka. Dari golongan mereka lahir ramai para Nabi dan Rasul. Akan tetapi lahir juga di kalangan mereka yang ingkar dan kufur terhadap nikmat yang telah di kurniakan Allah maka azab Allah tetap ditimpakan sebagai pengajaran dan hukuman.

SUMBER

Saturday, May 31, 2008

Siapakah Dzulqarnain Itu?

SIAPAKAH DZULQARNAIN ITU?
Dr. Yusuf Al-Qardhawi

Pertanyaan:

Didalam Al-Qur'an diterangkan masalah Dzulqarnain, yaitu:

"Hingga apabila dia telah sampai pada tempat terbenam
matahari, dia pun melihat matahari terbenam kedalam laut
yang berlumpur hitam, dan dia mendapati disitu (di laut itu)
segolongan ummat. Kami berkata, 'Hai Dzulqarnain! Kamu boleh
menyiksa mereka dan boleh berbuat kebaikan terhadap
mereka'." (Q.s. Al-Kahfi: 86).

Apakah yang dimaksud dengan matahari yang terbenam dalam
mata air yang hitam?

Siapakah orang-orang yang didapati oleh Dzulkarnain?

Jawab:

Kisah Dzulqarnain telah diterangkan dalam Al-Qur'an pada
Surat Al-Kahfi, tetapi Al-Qur'an tidak menerangkan siapakah
sebenarnya Dzulqarnain, siapakah orang-orang yang
didapatinya, dan dimana tempat terbenam dan terbitnya
matahari? Semua itu tidak diterangkan dalam Al-Qur'an secara
rinci dan jelas, baik mengenai nama maupun lokasinya, hal
ini mengandung hikmah dan hanya Allahlah yang mengetahui.

Tujuan dari kisah yang ada dalam Al-Qur'an, baik pada Surat
Al-Kahfi maupun lainnya, bukan sekadar memberi tahu hal-hal
yang berkaitan dengan sejarah dan kejadiannya, tetapi tujuan
utamanya ialah sebagai contoh dan pelajaran bagi manusia.
Sebagaimana Allah swt. dalam firman-Nya:

"Sesungguhnyapada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran
bagi orang-orang yang berakal." (Q.s.Yusuf: 111)

Kisah Dzulqarnain, mengandung contoh seorang raja saleh yang
diberi oleh Allah kekuasaan di bumi, yang meliputi Timur dan
Barat. Semua manusia dan penguasa negara tunduk atas
kekuasaannya, dia tetap pada pendiriannya sebagai seorang
yang saleh, taat dan bertakwa. Sebagaimana diterangkan di
bawah ini:

"Berkata Dzulqarnain, 'Adapun orang yang menganiaya, maka
kelak Kami akan mengazabnya, kemudian dia dikembalikan
kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang
tiada taranya'." (Q.s. Al-Kahfi: 87).

"Adapun orang yang beriman dan orang beramal saleh, maka
baginya pahala yang terbaik sebagai balasan ..." (Q.s.
Al-Kahfi: 88).

Jadi, apa yang diterangkan dalam Al-Qur'an, hanyalah
mengenai perginya Dzulqarnain ke arah terbenamnya matahari,
sehingga berada pada tempat yang paling jauh. Di situ
diterangkan bahwa dia telah melihat matahari seakan-akan
terbenam di mata air tersebut, saat terbenamnya. Sebenarnya,
matahari itu tidak terbenam di laut, tetapi hanya bagi
penglihatan kita saja yang seakan tampak matahari itu
terbenam (jatuh) ke laut. Padahal matahari itu terbit
menerangi wilayah (bangsa) lain.

Maksud dari ayat tersebut, bahwa Dzulqarnain telah sampai ke
tempat paling jauh, seperti halnya matahari terbenam di mata
air yang kotor (berlumpur) , yang disebutkan diatas. Begitu
juga maksud dari ayat tersebut, Dzulqarnain telah sampai di
tempat terjauh, yaitu terbitnya matahari dan sampai bertemu
pula dengan kaum Ya'juj dan Ma'juj.

Dalam keadaan demikian, Dzulqarnain tetap pada pendiriannya
semula, yaitu sebagai seorang raja yang adil dan kuat
imannya, yang tidak dapat dipengaruhi oleh hal-hal yang
dikuasai dan kekuasaannya diperkuatnya dengan misalnya
membangun bendungan yang besar, yang terdiri dari
bahan-bahan besi dan sebagainya. Di dunia ini beliau selalu
berkata dan mengakui, bahwa segala yang diperolehnya sebagai
karunia dari Allah dan rahmat-Nya.

Firman Allah swt. dalam Al-Qur'an:

"Dzulqarnain berkata, 'Ini (bendungan atau benteng) adalah
suatu rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah tiba janji
Tuhanku, Dia pun menjadikannya rata dengan bumi (hancur
lebur); dan janji Tuhanku itu adalah benar." (Q.s. Al-Kahfi:
98).

Tujuan utama dari Al-Qur'an dalam uraian di atas ialah
sebagai contoh, dimana seorang raja saleh yang diberi
kekuasaan yang besar pada kesempatan yang luar biasa dan,
kekuasaannya mencakup ke seluruh penjuru dunia di sekitar
terbit dan terbenamnya matahari. Dalam keadaan demikian,
Dzulqarnain tetap dalam kesalehan dan istiqamahnya tidak
berubah.

Firman Allah swt.:

"Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan di bumi dan Kami
telah memberikan kepadanya (Dzulqarnain) jalan (untuk
mencapai) segala sesuatu." (Q.s. Al-Kahfi: 84).

Mengenai rincian dari masalah tersebut tidak diterangkan
dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah, misalnya waktu, tempat dan
kaumnya, siapa sebenarnya mereka itu. Karena tidak ada
manfaatnya, maka sebaiknya kami berhenti pada hal-hal yang
diterangkan saja. Jika bermanfaat, tentu hal-hal itu
diterangkan dalam Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah saw.

---------------------------------------------------
FATAWA QARDHAWI, Permasalahan, Pemecahan dan Hikmah
Dr. Yusuf Al-Qardhawi
Penerbit Risalah Gusti
Cetakan Kedua, 1996
Jln. Ikan Mungging XIII/1
Telp./Fax. (031) 339440
Surabaya 60177