Showing posts with label ULAMA. Show all posts
Showing posts with label ULAMA. Show all posts

Friday, February 15, 2008

SOALAN: Ada kawan saya yang mengatakan kita tidak boleh berpegang atau mengikut pendapat majoriti umat Islam hari ini kerana katanya suara ramai itu sesat dan bidaah. Adakah pendapat ini benar?

– Siti Norbaya binti Zakaria,

Kuala Muda,Kedah.

JAWAPAN:

Pendapat kawan anda itu kurang tepat, kerana banyak kekeliruan terdapat di dalamnya antara lain ianya bertentangan dengan al-Quran dan juga hadis Rasulullah. Dalam hal ini Allah berfirman yang bermaksud: Siapa yang menentang (ajaran) Rasulullah s.a.w. sesudah nyata kepadanya kebenaran petunjuk (yang dibawanya) dan ia pula mengikut jalan yang lain dari jalan orang-orang beriman Kami akan berikan kepadanya kuasa untuk melakukan (kesesatan) yang dipilihnya (dan pada hari akhirat kelak) Kami akan memasukkannya neraka jahanam dan itulah sejahat dan seburuk tempat kembali. (surah an-Nisa ayat 115).

Oleh itu kumpulan majoriti (*majoriti ulama- pengendali) Islam adalah tetap kekal atas jalan petunjuk dari Tuhan mereka selaras dengan sabda Nabi s.a.w. yang bermaksud: Sentiasa umatku berada atas jalan petunjuk keredaan Tuhan tidak menjejaskan mereka oleh mereka (kumpulan yang menyalahi mereka) sedikitpun sehingga kiamat (riwayat Muslim). Adapun yang dimaksudkan dengan pendapat ramai itu ialah majoriti dari kalangan umat manusia di dunia ini (*yang mengikut majoriti ulama-pengendali) seluruhnya sesuai dengan firman-Nya bermaksud: sekiranya kamu patuh kepada kebanyakan umat manusia di muka bumi ini mereka akan menyesatkan kamu dari jalan petunjuk-Nya. Dan Allah berfirman lagi bermaksud: tidak beriman kepada Allah s.w.t. oleh kebanyakan (manusia) melainkan mereka mempersekutukan-Nya (surah Yusof ayat 106). Sedangkan majoriti umat Islam serta majoriti ulama mereka itu dinamakan ijmak yang perlu dijadikan pegangan dan ikutan kita dari kalangan orang awam hari ini. Wallahualam.

- ALAMATKAN kemusykilan anda kepada Kemusykilan Anda Dijawab, Yadim, Jalan Perdana 50480 Kuala Lumpur atau e-mel mingguan@utusan.com.my. Nyatakan nama penuh dan nama samaran untuk siaran.

Sunday, December 30, 2007

Mengapa Tasauf Dipinggirkan?

SOALAN: Kenapa ramai kalangan kita yang menentang amalan tasawuf sedangkan kalangan ulama dahulu ramai yang mengamalkan tasawuf? Di antara ulama tersebut seperti ulama besar Syaikh Mohammad Said, Tok Kenali, Tok Pulau Manis, Tok Selihor dan ramai lagi. Dan sebahagian mereka ini telah memilih kitab Hikam Syaikh Ataillah As Sakandari sebagai buku rujukan dan kitab bacaan mingguan mereka. Kenapa hari ini ulama kita tidak mengikuti jejak mereka? Malahan dikatakan ada yang mengutuknya terutama mereka yang mengaku pembela sunah?

– Muhammad Iskandar Dahrawi,

Semenyih, Selangor.

seterusnya

Monday, December 24, 2007

Adakah Sahih Bukhari semuanya hadis sahih?

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


Ada beberapa hal yang perlu dijelaskan terlebih dahulu agar tidak rancu (keliru) dalam memahami duduk permasalahannya.

Al-Imam Al-Bukhari adalah seorang muhaddits yang lahir tahun (810-896). Beliau banyak melakukan kritik hadits dan masterpiece beliau adalah kitab yang disebut dengan istilah Ash-Shahih. Orang biasa menyebutnya dengan shahih Bukhari. Judul lengkapnya adalah Jami' Ash-Shahih Al-Musnad Al-Mukhtashar min Haditsi Rasulillah shallallahu 'alaihi wasallam wa sunanihi wa ayyamihi.

Kitab yang berisi 7.275 hadits secara terulang-ulang atau 4000 haditsbila tidak diulang-ulangini oleh semua ahli hadits diakui sebagai kitab yang sudah mengalami seleksi yang teramat ketat dan tidak main-main.

Agar sebuah hadits bisa lolos seleksi (melepasi piawaian) ketat Al-Imam Bukhari dan tertulis di dalamnya, maka proses yang dialaminya menjadi sangat panjang.

Misalnya, para perawi yang meriwayatkan hadits ini harus lolos seleksi yang teramat ketat. Karena Al-Bukhari menelusurinya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Nyaris tidak ada seorang pun yang pernah berdusta yang akan dipakai hadits oleh beliau.

Bahkan jangankah berdusta, sekedar berpakaian kurang sopan dan tidak selayaknya dalam pandangan masyarakat, sudah dinilai miring (bermasalah) oleh beliau. Maka hadits-hadits yang diriwayatkan oleh orang tersebut pastilah mengalami diskualifikasi. Tidak masuk ke dalam jajaran hadits di dalam kitab beliau.

Maka keshahihan semua hadits yang ada di dalam kitab As-Shahih yang disusun oleh Al-Bukhari telah menjadi ijma' ulama sedunia. Bahkan kitab ini mendapat julukan kitab tershahih kedua setelah Al-Quran Al-Kariem.

Kitab Karya Al-Bukhari Selain Ash-Shahih

Namun yang jarang diketahui adalah ternyata Al-Imam Al-Bukhari punya karya hadits yang lain selain kitab Ash-Shahihnya. Di mana karya-karya itu memang memuat hadits, namun beliau sendiri tidak menjamin apakah hadits yang ada di dalam karyanya itu shahih atau tidak.

Kalau beliau tidak menjamin, bukan berarti pasti tidak shahih. Tidak demikian cara kita memahaminya. Namun beliau tidak melakukan penyeleksian seperti ketika menyusun Ash-Shahih.

Di antara kitab yang pernah ditulis oleh beliau adalah duakitab kecil yang diberi judul Raf'ul Yadain (mengangkat kedua tangan) dan Ashshalatu khalfal imam (shalat di belakang imam). Kedua kitab ini cukup tipis, meski berisi hadits juga. Dan beliau tidak menjaminkan keshahihan hadits-hadits yang ada di dalamnya.

Selain itu juga ada kitab Adabul Mufrad yang berisi sekitar1000-an hadits, di mana beliau pun tidak memberikan jaminan keshahihannya.

Selain kitab hadits, ternyata Al-Imam Al-Bukhari juga seorang penulis sejarah. Dua kitab sejarah yang beliau susun adalah At-tarikh Al-Kabir dan At-Tarikh Ash-Shaghir. Keduanya sejak pertama kali ditulis, sama sekali tidak bicara tentang hadits nabawi. Kitab ini adalah kitab sejarah, jadi sama sekali bukan kitab hadits.

Maka jangan berharap untuk mendapatkan hadits-hadits yang shahih sebagaimana yang kita dapat dari kitab Ash-Shahih.

Kesimpulan

Jadi semua hadits yang terdapat di dalam kitab Ash-Shahih dipastikan atau dijamin keshahihannya. Sedangkan bila tidak terdapat di dalamnya, meski pun ditulis oleh Al-Bukhari, belum tentu hadits itu shahih.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Lawati sumbernya

Tingatan Ulama Syariah

Di dalam situs ini saya banyak belajar dan berkenalan dengan beragam ulama. Pertanyaannya, apakah di antara para ulama itu ada jenjang atau struktur kesenioran atau semacam tingkatan?

Aggress Santosa

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kalau ada tingkatan atau level di kalangan ahli syariah, sebenarnya bukan derajat keimanan atau ketaqwaan, melainkan tingkat keahlian dan profesionalitas. Ibarat dunia kedokteran, ada dokter umum dan ada dokter spesialis. Tapi semua itu bukan jaminan bahwa dokter tidak akan terserang penyakit atau tidak bisa mati.

Syeikh Abu Zahrah, ulama besar Mesir mencoba membuat klasifikasi para ahli ijtihad menjadi beberapa klasifikasi, misalnya mujtahid mutlaq (mustaqil), mujtahid muntasib, mujtahid fil mazhab dan mujtahid fi at-tarjih.

1. Mujtahid mutlaq (mustaqil)

Ini adalah level mujtahid yang paling tinggi. Untuk sampai ke level ini, awalnyaseseorang harus memenuhi dulu standar dasar yang harus dimiliki seorang mujtahid.

Kemudian tambahannya adalah dia harus bisa membuat metologi ijtihad (ushul fiqih) sendiri tanpa meniru atau mengadaptasi dari orang lain. Dari hasil konsepnya itu, dia melakukan ijtihad pada semua sisi kehidupan mulai dari urusan thaharah sampai urusan kenegaraan, yang kemudian disusun menjadi kumpulan hasil ijtihad yang murni hasil dari kesungguhan dirinya. Bukan kutipan juga bukan contekan dari mujtahid lain. Kecuali kalau kebetulan hasilnya sama.

Contoh mujtahid mutlak adalah 4 imam mazhab yang kita kenal:

  • Al-Imam Abu Hanifah (80-150 H)
  • Al-Imam Malik (93-179H)
  • Al-Imam Asy-Syafi'i (150-204 H)
  • Al-Imam Ahmad bin Hanbal

Mereka yang merumuskan metodologi istimbath hukum dan sistem pengerjaannya, selain mereka juga menggunakannya untuk berijtihad, di mana sistem dan hasil ijtihadnya kemudian dijadikan rujukan oleh mujtahid di level bawahnya.

Kalau kita ibaratkan ilmu matematika, mereka ini kira-kira seperti orang yang menemukan rumus segi tiga siku-siku Phitagoras, a kuadrat sama dengan b kuadrat kali c kuadrat. Atau yang menemukan rumus luas lingkaran.

Siapa pun orang yang datang kemudian, kalau mau mengukur segi tiga siku-siku atau mengukur luas lingkaran, pasti tidak akan bisa lepas dari rumus dasar itu.

2.Mujtahid Muntasib

Pada level kedua, kita bertemu dengan para mujtahid yang disebut muntasib. Sesuai namanya, muntasib adalah orang yang melakukan instisab, yaitu berafiliasi kepada suatu mazhab tertentu.

Jadi mereka tidak menciptakan mazhab sendiri dalam arti tidak merumuskan sistem ijtihad dan istimbath. Mereka adalah orang yang datang belajar sistem itu hingga betul-betul menguasai sepenuhnya, setelah itu merekamenjadi pengguna langsung untuk melakukan berbagai ijtihad dalam masalah syariah.

Namun dari segi kemampuan, sesungguhnya mereka sudah bisa melakukan perumusan sistem ijtihad sendiri. Tapi biasanya mereka tidak melakukannya, karena apa yang sudah dirintis oleh guru mereka sudah lebih baik dan lebih maju.

Bahkan mereka malah menjadi tonggak yang ikut menguatkan suatu mazhab yang sudah ada, karena mereka menjadi pembela sekaligus berjasa mempopulerkannya kepada khalayak.

Kalau kita ibaratkan kira-kira mereka adalah para programer yang ikut pada OS Open Source semacam komunitas Linux. Walau pun mereka bisa bikin sendiri tapi umumnya mereka lebih banyak menjadi pengguna, meski sesekali ikut menyumbangkan karya. Di tangan mereka inilahOS Open Sourcebisa tetap eksis.

Menurut Ibnu Abidin, sebagaimana dikutip oleh Abu Zahrah, pada tiap-tiap mazhab dari keempat mazhab itu ada mujtahid dengan level muntasib.

2.1. Muntasib Mazhab Hanafi

Yang termasuk ke dalam kategori ini adalah Muhammad bin Hasan As-Syaibani (131-189H) dari mazhab Abu Hanifah. Beliau adalah murid langsung Imam Mazhab dan menjadi muntasib pada mazhab yang beliau rintis, sekaligus menjadi pilar yang menguatkan mazhab ini.

Selain itu juga ada Al-Qadhi Abu Yusuf (113-182H) yang amat terkenal itu. Mereka berdua adalah pasangan ulama yang tidak bisa dilepaskan dari nama besar mazhab Abu Hanifah, biasa disebut singkat: Abu Yusuf dan Muhammad.

2.2. Muntasib Mazhab Maliki

Di dalam yang didirikan oleh Al-Imam Malik rahimahullah, kita mengenal ulama besar seperti Abdurrahman bin Al-Qasim (132-191H). Beliau ini levelnya sebenarnya mujtahid mutlak, karena sudah bisa membuat sistem mazhab sendiri.

Namun sebagai murid langsung Al-Imam Malik selama 20 tahun, lebih lebih senang menyempurnakan mazhab gurunya. Termasuk di antara jasa beliau adalah menyempurnakan kitab Al-Mudawwanah Al-Kubra, kitab induk dalam mazhab ini.

2.3. Muntasib Mazhab Asy-Syafi'i

Nama yang bisa disebut untuk muntasib mazhab ini adalah Al-Muzani. Lengkapnya adalah Abu Ibrahim Ismail bin Yahya Al-Muzani (175-264H). Sang guru, Al-Imam Asy-Syafi'i sampai berkomentar begini, "Al-Muzani adalah pembela mazhabku."

Beliau memang berkarya besar untuk mazhab gurunya, di antaranya adalah kitab Al-Mabsuth (Al-Mukhtashar Kabir) dan Al-Mukhtashar Shaghir. Murid Al-Muzani tersebar di seantero khilafah Islamiyah sehingga mazhab gurunya ini dikenal dari ujung barat sampai ujung timur dunia.

Selain itu juga ada Al-Buwaithi (w.231 H) yang oleh As-Syafi'i diwariskan halaqoh di Baghdad dan menulis banyak tentang mazhab ini.

3. Mujtahid fil mazhab

Mereka ini adalah mujtahid yang tidak membuat sistem sendiri, juga tidak berijtihad sendiri. Mereka menggunaka sistem dari mazhab masing-masing dan mengikuti hasil ijtihadnya juga.

Mereka hanya berijtihad manakala di dalam mazhab mereka belum ada hasil ijtihad. Karena persolaan hukum akan terus ada dan tidak pernah berhenti.

Maka pada saat tidak hasil ijtihad dari mazhabnya yang sekiranya cocok dan bisa dijadikan jawaban, mereka barulah berupaya untuk berijtihad.

Dari kalangan mazhab Al-Hanafiyah, yang termasuk ulama mujtahid fil mazhab adalah Abul Hasan Al-Karkhi (260-340H) dan Hasan bin Az-Ziyad (w. 204H). Dari kalangan Maliki adalah Muhammad bin Abdullah Al-Abhari (89-375H). Dari kalangan mazhab Syafi'i adalah Ibnu Abi Hamid Al-Asfraini (344-406H).

4. Mujtahid fi at-tarjih

Pada level paling bawah, ada mujtahid fit tarjih. Peran mereka bukan membuat sistem, juga tidak berijtihad sendiri, juga tidak melakukan ijtihad yangbelum ada ijtihad sebelumya.

Mereka 100% mengikuti sistem dan ijtihad dari para seniornya. Dan karena sudah banyak hasil ijtihad dari para senior dan terkadang hasilnya agak berbeda, maka peran mereka adalah melakukan tarjih.

Namun tarjih yang mereka lakukan bukan dalam arti mementahkan hasil ijtihad, melainkan mencoba melakukan studi komparasi antara semua hasil ijtihad dari keempat mazhab itu, lalu melakukan penelitian ulang atas dalil-dail yang digunakan serta analisa tentang keunggulan dari masing-masing mazhab.

Mengapa masih harus ada tarjih?

Salah satu sebabnya adalah perubahan zaman yang sangat dinamis serta kondisi tiap negeri yang selalu berbeda. Sehingga ada ijtihad yang cocok diterapkan di suatu negeri tapi barangkali kurang tepat kalau diterapkan di negeri yang lain.

Juga ada mazhab yang bisa diterapkan pada zaman tertentu dan kurang tepat untuk masa yang lain.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

sumber

Wednesday, December 19, 2007

Kenapa Ulama Berpeza Pendapat?

ANTARA SEBAB-SEBAB PERBEZAAN PENDAPAT PARA ULAMA MUKTABAR

MUQADDIMAH

1. PERBEZAAN QIRAAT اختلاف القراءات
Contoh : Basuh kaki atau sapu kaki ketika wudhuk.
Firman Allah :
يا أيها الذين آمنوا إذا قمتم إلى الصلاة فاغسلوا وجوهكم وأيديكم إلى الـمرافق وامسحوا
برؤوسكم وأرجلَِكم إلى الكعبين (الـمائدة : 6)
"Wahai orang beriman, apabila kamu bangun untuk solat maka basuhlah muka kamu dan (basuhlah) dua tangan hingga siku, dan sapulah dengan kepala kamu dan (basuhlah/sapulah) kaki kamu...".

Nafi’, Ibnu A’mir dan Kisaii membaca secara ‘nasab’ sementara Ibnu Kathir, Abu A’mru dan Hamzah membaca secara ‘jarr’. Bacaan nasab mewajibkan kaki dibasuh kerana ia dia’tafkan (عطف) kepada وجوهكم. Manakala bacaan jar mensyaratkan sapu sahaja.

Terdapat empat belas qiraat. Yang tahqik ialah mutawatirnya qiraat yang sepuluh .

2. BERHUJJAH DENGAN QIRAAT SYAZ الاحتجاج بالقراءة الشاذة
Al-Quran ialah :
- ما نقل إلينا بين دفتي الـمصحف تواترا
- الـمنزل على الرسول الـمكتوب فى الـمصاحف الـمنقول عنه عليه الصلاة والسلام نقلا متواترا بلا شبهة
Ertinya : "Apa yg dipindahkan kepada kita sebagaimana ada dalam mushaf daripada Nabi s.a.w.secara mutawatir bila syubhah".

Dalam keadaan ini, bolehkah berhujjah dengan qiraat syaz. Mazhab Hanafi menjadikan qiraat syaz sebagai hujjah. Imam Nawawi berpendapat bahawa ia tidak menjadi hujjah dalam mazhab Syafii.

Contoh : Wajib qada puasa Ramadhan secara berturut-turut.
Apabila seseorang tidak berpuasa pada bulan Ramadhan beberapa hari kerana sakit atau musafir, adakah wajib dia mengqadakannya secara berturut-turut atau boleh diqadakan tanpa berturut? Mazhab Hanafi dan sesetengah ahli mazhab Zahiri mewajibkan qada secara berturut. Dalil mereka ialah qiraat syaz yang berbunyi :
فمن كان منكم مريضا أو على سفر فعدة من أيام أخر متتابعات
"Maka sesiapa yg sakit atau musafir maka beberapa hari daripada hari lain berturut2.

Bacaan ini adalah bacaan Ubai bin Ka’ab .
Jumhur ulama berpendapat tidak wajib kerana lafaz متتابعات adalah qiraat syaz. Dalam Quran yang mutawatir hanya berbunyi :
فمن كان منكم مريضا أو على سفر فعدة من أيام أخر ( البقرة : 184 )

Qiraat syaz di sisi sebahagian para ulama adalah setaraf dengan hadis Aahad حديث الآحاد . Imam Sarakhsi berkata :
نحن ما أثبتنا بقراءة ابن مسعود كون الزيادة قرآنا ، وإنما جعلنا ذلك بمنزلة خبر رواه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ، لعلمنا أنه ما قرأ بها إلا سماعا من رسول الله صلى الله عليه وسلم ، وخبره مقبول فى وجوب العمل به ... .
"Kami tidak menetapkan dengan bacaan Ibnu Masud keadaan tambahan itu sebagai Quran. Tetapi kami jadikan ia seperti hadis Aahad yg diriwayatkan daripada Nabi s.aw... kerana kita tahu bahawa Ibnu Masud tidak membaca demikian melainkan didengar daripada Nabi s.a.w. , dan khabarnya diterima pada wajib beramal dengannya".

3. TIDAK SAMPAI HADIS KEPADA MUJTAHID. عدم بلوغ الحديث إلى المجتهد

Contoh : Abu Bakar as-Siddiq apabila diajukan soalan tentang harta pusaka untuk nenek, beliau menjawab :
ما لك فى كتاب الله من شىء ، وما علمت لكِ فى سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم من شىء ، ولكن أسأل الناس
Ertinya : Tidak ada bagi kamu sesuatu di dalam Quran, dan tidak aku ketahui bagi kamu sesuatu di dalam sunnah nabi s.a.w. akan tetapi aku akan bertanya orang lain.

Selepas itu bangunlah al-Mughirah ibnu Syuk’bah dan Muhammad ibnu Maslamah dan bersaksi bahawa Nabi s.a.w. memberikan kepada nenek satu perenam.

Contoh : Umar al-Khattab telah tiba di satu tempat bernama Sarag سرغ dan diberitahu tentang wabak taun di Syam. Beliau bermesyuarat dengan para sahabat tentang wabak tersebut samaada hendak meneruskan perjalanan atau berpatah balik. Masing-masing memberikan pendapat tanpa menyebut sunnah nabi dalam kes ini. Akhirnya datanglah Abdul Rahman ibnu A’uf lalu berkata bahawa Nabi s.a.w. bersabda :
إذا سمعتم به بأرض فلا تقدموا عليه ، و إذا وقع بأرض وأنتم بها فلا تخرجوا فرارا منه
Ertinya : Jika kamu mendengar berita wabak taun di sesuatu tempat sedangkan kamu tidak berada di sana maka janganlah kamu pergi ke sana. Dan apabila berlaku wabak taun di sesuatu tempat sedangkan kamu berada di dalamnya maka janganlah kamu keluar lari daripadanya .

Contoh : Abu Hurairah berpendapat tidak harus bagi orang yang berjunub ketika subuh untuk berpuasa. Pendapat ini dibantah oleh isteri nabi s.a.w. Aishah yang menceritakan bahawa Nabi masih berjunub ketika subuh. Walaupun begitu, baginda terus berpuasa .


4. HADIS SAMPAI KEPADA MUJTAHID TETAPI IA TIDAK SABIT DI SISINYA.
أن يكون الحديث قد بلغ المجتهد لكنه لم يثبت عنده

Sebab ini berkaitan perawi hadis atau sanad hadis. Oleh kerana hadis itu tidak sabit di sisinya, mereka tidak beramal dengan hadis tersebut.
Contoh : Wanita yang bercerai secara baain, adakah wajib nafkah atau tidak. Dalam kes ini, Umar al-Khattab berpendapat bahawa bagi wanita itu nafkah dan tempat tinggal. Ini berdasarkan ayat Quran :
يا أيها النبي إذا طلقتم النساء فطلقوهن لعدتهن وأحصوا العدة واتقوا الله ربكم لا تخرجوهن من بيوتهن ولا يخرجن إلا أن يأتين بفاحشة مبينة
"Wahai Nabi! Apabila kamu menceraikan isteri maka ceraikanlah mengikut iddah dan bertaqwalah kepada Allah. Janganlah kamu keluarkan mereka daripada rumah dan janganlah mereka keluar melainkan jika mereka melakukan sesuatu yg keji".

Ayat ini mewajibkan tempat tinggal bagi wanita yang diceraikan. Oleh kerana itu, dia juga berhak mendapat nafkah. Umar melihat ayat ini umum untuk kes perceraian. Walaupun hadis tentang Fatimah binti Qais telah sampai kepada beliau, tetapi beliau menolak hadis tersebut kerana tidak yakin dengan riwayat tersebut. Hadis tentang Fatimah itu ada dalam Sahih Muslim. Juga terdapat dalam Sahih Muslim perkataan Umar al-Khattab yang menolak riwayat tersebut. Umar berkata :
لا نترك كتاب الله وسنة نبينا لقول امرأة لا ندري لعلها حفظت أو نسيت ، لها السكنى والنفقة........
"Kami tidak meninggalkan kitab Allah dan sunnah Nabi kerana perkataan seorang wanita yang tidak kami ketahui samaad dia ingat atau lupa. Baginya rumah dan nafkah".

5. LAFAZ PERKATAAN HADIS.
الاشتراك فى اللفظ أو عدم معرفة المجتهد بدلالة الحديث لكون اللفظ الذى فى الحديث غريبا عنده

Contoh : Iddah wanita yang ada haid ialah tiga quruk. Firman Allah :
والـمطلقات يتربصن بأنفسهن ثلاثة قروء ( البقرة : 228 )
"Dan wanita yg diceraikan menunggu selama tiga quruk".

Ulama berbeza pendapat kerana lafaz ‘quruk’ قروء mempunyai dua makna iaitu haid dan suci. Aishah dan Ibnu Umar berpendapat bahawa ia bermakna suci. Pendapat ini disokong oleh Malik, Syafii dan Ahmad pada satu riwayat. Sementara Abu Bakar, Umar, Uthman dan Ali berpendapat ia ada haid. Abu Hanifah memilih pendapat ini.



6. WUJUD DALIL-DALIL YANG BERTENTANGAN
تعارض الأدلة فيما يتراءى لنا

Contoh : Nikah orang muhrim.
Imam Malik, Syafii dan Ahmad berpendapat bahawa tidak sah pernikahan orang yang sedang ihram. Ini berdasarkan hadis :
لا يَنْكِح الـمُحْرِم ولا يُنْكِح ولا يخطب
Ertinya : Orang yang ihram tidak berkahwin dan tidak mengahwinkan dan tidak meminang .

Abu Hanifah berpendapat bahawa ia adalah harus. Ini kerana ada pula hadis menceritakan bahawa nabi s.a.w. berkahwin ketika ihram. Daripada Ibnu Abbas beliau berkata :
تزوج رسول الله صلى الله عليه وسلم ميمونة وهو محرم
Ertinya : Nabi s.a.w. bernikah dengan Maimunah sedang baginda masih ihram .

Contoh : Membaca Basmalah secara jahr (kuat) ketika solat.
Di Malaysia, rata-rata umat Islam menyaringkan bacaan Basmalah ketika solat Subuh, Maghrib dan Isyak. Di tempat lain, sebahagian umat Islam membaca Basmalah secara sirr (perlahan). Ada hadis yang bertentangan dalam kes ini.
Hadis tidak menyaringkan bacaan Basmalah ialah :
عن أنس بن مالك قال : صليتُ مع النبي وأبي بكر وعمر وعثمان فلم أسمع أحدا منهم يقرأ بسم الله الرحمن الرحيم رواه أحمد ومسلم ، وفى لفظ : صليتُ خلف النبي وأبي بكر وعمر وعثمان فكانوا لا يجهرون ببسم الله الرحمن الرحيم . رواه أحمد والنسائي بإسناد على شرط الصحيح ،...
"Daripada Anas bin Malik berkata : aku solat bersama Nabi, Abu Bakar, Umar dan Uthman. Aku tidak mendengar seorang pun membaca basmalah. (Riwayat Ahmad dan Muslim)...

Antara ulama yang berpendapat sedemikian ialah Abu Hanifah dan Ahmad. Ada pun hadis menyaringkan bacaan ialah :
وعن قتادة قال : سئل أنس كيف كان قراءة النبي ؟ فقال : كانت مدا ثم قرأ بسم الله الرحمن الرحيم يمد ببسم الله ويمد بالرحمن ويمد بالرحيم . رواه البخاري .
"Qatadah berkata : "Anas ditanya tentang bacaan Nabi. Kata Anas : Bacaan Nabi panjang/sederhana. Kemudian beliau membaca basmalah ..." (Riwayat Bukhari).

Dalam mencari jalan tengah bagi masalah ini, Imam as-Syaukani membuat kesimpulan setelah membahaskan secara mendalam dengan berkata :
واعلم أن الأمة أجمعت أنه لا يكفر من أثبتها ولا من نفاها لاختلاف العلماء فيها بخلاف ما لو نفى حرفا مجمعا عليه أو أثبت ما لم يقل به أحد فإنه كفر بالإجماع.............. فليس شيء من الجهر وتركه يقدح فى الصلاة ببطلان بالإجماع فلا يهولنك تعظيم جماعة من العلماء لشأن هذه الـمسئلة والخلاف فيها ولقد بالغ بعضهم حتى عدها من مسائل الخلاف.
"Dan ketahuilah bahawa umat sepakat bahawa tidak kafir sesiapa yg menetapkannya atau menafikannya kerana perbezaan ulama. Ini tidak sama dengan menafikan satu huruf Quran atau menetapkan apa yg bukan Quran sebagai Quran maka ia kafir dengan ijmak ulama... Maka tidaklah nyaring bacaan atau tidak nyaring merosakkan dalam solat dengan batal dengan ijmak ulama. Maka janganlah engkau ditakuti dengan sebahagian ulama yg membesarkan masalah ini dan khilaf padanya. Dan ada sesetengah ulama terlalu melampau hingga menganggap masalah basmalah ini sebagai masalah aqidah.



7. BERHUJJAH DENGAN HADIS MURSAL الاحتجاج بالحديث الـمرسل
Hadis Mursal bermaksud :
وأما الـمرسل عند الفقهاء وأصحاب الأصول ... ما انقطع إسناده على أي وجه كان انقطاعه... وقال جماعات من المحدثين أو أكثرهم لا يسمى مرسلا إلا ما أخبر فيه التابعي عن رسول الله .
"Adapun mursal disisi fuqaha dan ulama usul... apa yg terputus sanad dalam apa jua keadaan... dan sebahagian ulama hadis berkata hadis mursal ialah apa yg diceritakan oleh tabiin daripada Nabi tanpa ada sahabat".

Dalam berhujjah dengannya, Mazhab Hanafi berhujjah dengannya. Imam Syafii tidak berhujjah dengan hadis mursal melainkan cukup syarat-syarat tertentu.
Contoh : Batal wudhuk ketika bersentuhan antara lelaki dan wanita.
Mazhab Hanafi berpendapat tidak batal. Dalil mereka adalah hadis Ibrahim at-Taimi daripada Aishah :
أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقبل بعض أزواجه ثم يصلي ولا يتوضأ. رواه أبو داود والنسائي. قال أبو داود : هو مرسل . إبراهيم التيمس لم يسمع من عائشة.
Mazhab Syafii berpendapat bahawa persentuhan kulit lelaki dan wanita bukan mahram membatalkan wudhuk. Ini kerana hadis tersebut adalah hadis mursal. Imam as-Syaukani berkata :
ورواه الشافعي من طريق معبد بن نباتة عن محمد بن عمر عن بن عطاء عن عائشة عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه كان يقبل بعض نسائه ولا يتوضأ ) قال : ولا أعرف حال معبد فإن كان ثقة فالحجة فيما روي عن النبي صلى الله عليه وسلم.... .


8. ANTARA ZAHIR HADIS DAN MAQASID HADIS.

Contoh : Nabi s.a.w. memerintahkan para sahabat agar pergi dan bersolat Asar di tempat Bani Quraizah pada perang Ahzab dengan bersabda :

. لا يصلين أحد منكم العصر إلا في بني قريظة
"Janganlah seseorang kamu solat asar melainkan di tempat Bani Quraizah".

Para sahabat segera bertolak ke sana. Di pertengahan jalan masuk waktu solat asar. Sebahagian sahabat meneruskan perjalanan dan tidak bersolat asar pada waktu tersebut dengan melihat kepada zahir hadis. Sebahagian sahabat lagi bersolat asar dengan bukti bahawa Nabi s.a.w. hanya ingin kita bersegera ke sana. Mereka melihat kepada maqasid hadis.

Ini adalah sebahagian daripada sebab-sebab kenapa berlaku perbezaan pendapat para ulama. Sebab-sebab ini berkaitan secara langsung dengan Quran dan hadis Nabi s.a.w. Ini tak termasuk sebab dalam masalah usl fiqh lagi.

Rujukan :

1. Ibnu Taimiyyah, رفع الـملام عن الأئمة الأعلام , دار القلم للتراث.
2. Ibnu Qayyim, إعلام الـموقعين عن رب العالمين , مكتبة الإيمان, 1999, cet 1.
3. Sahih Bukhari, فتح الباري بشرح صحيح البخاري, دار الحديث, 1998, cet 1.
4. Sahih Muslim, شرح صحيح مسلم , دار الخير, 1998, cet 4.
5. As-Syaukani, نيل الأوطار شرح منتقى الأخبار من أحاديث سيد الأخيار , دار الحديث, 1998, cet 5.
6. As-Sarakhsi, أصول السرخسي , دار الـمؤيد, 1997, cet 1.
7. Az-Zarqaani, مناهل العرفان في علوم القرآن , الـمكتبة العصرية, 1996, cet 1.

*Jawapan oleh Ustaz Nizam

SUMBER:
http://www.bicarasufi.com/bsc/viewtopic.php?t=14424